Bandung Tempo Dulu

gedung sate

Bandung adalah ibukota propinsi Jawa Barat, terkenal dengan sebutan Kota Kembang, dan juga  dikenal sebagai Parisj Van Java…

Kebanyakan turis mancanegara khususnya Eropa mengenal Bandung sebagai Parisj Van Java, mungkin karena pengaruh Belanda yang sangat kental, maklum Belanda menjajah Indonesia kurang lebih 350 tahun. namun bagi turis lokal mereka lebih sering menyebutnya sebagai kota kembang.

 

Namun nama Bandung sendiri, menurut catatan dan cerita dari orangtua berasal dari kata bendung atau bendungan karena lava Gunung Tangkuban Perahu yang membendung sungai citarum yang kemudian membentuk telaga, namun ada juga menceritakan bahwa kata Bandung berasal dari dua perahu yang diikat berdampingan menjadi  menjadi satu, yang digunakan Bupati Bandung untuk mengitari sungai Citarum.

 

Kemudian pemerintahan Kolonial belanda pada saat itu, menjadikan Bandung sebagai pemukiman baru bagi orang Belanda yang bertugas di Indonesia karena cuacanya yang sejuk, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels lah yang mengeluarkan surat keputusan tanggal 25 september 1810 untuk pembangunan sarana dan prasarana untuk pemukiman. Dan dikemudian hari tanggal 25 September dijadikan hari jadi kota Bandung.

 

Parisj Van Java atau kota Paris dari Jawa… orang – orang Eropa pada saat itu menyebutnya seperti itu karena selain hawanya yang sejuk, Bandung juga dijadikan pusat semua kegiatan bagi mereka, mulai dari politik,kesenian, budaya hingga hiburan dan rekreasi bagi orang – orang Eropa yang berada di Indonesia. Untuk hiburan mereka mendatangkan penyanyi dari Eropa khususnya Perancis untuk datang ke Bandung, dan banyaknya artis dari Eropa itulah mereka menyebut Bandung sebagai Parisj Van Java, walaupun pada saat itu bandung masih dijuluki desa Bandung.

 

Pada tahun 1896 Bandung diusulkan untuk menjadi tempat pertemuan Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula (Bestuur van de Vereniging van Suikerplanters) yang berpusat di Surabaya.

Karena pada saat itu Bandung hanyalah desa yang dingin, maka seorang Tuan Perkebunan (onderneming) dari Priangan yaitu Meneer Schenk mengusulkan untuk mendatangkan noni – noni cantik Indo Belanda dari perkebuna Pasir Malang untuk menghangatkan dan memeriahkan pertemuan itu.

Karena kesuksesan pertemuan itu, para tuan perkebunan itu menebarkan istilah “De Bloem der Indische Bergsteden” (Bunganya Kota pegunungan HIndia Belanda) namun maksud dari Bloem sendiri bukanlah kembang dalam arti sesungguhnya namun julukan kepada noni – noni cantik itu karena “pelayanan”nya.

 

Berjalannya waktu pada tanggal 1 april 1906, oleh Gubernur Jenderal J.B van Heutsz Bandung secara resmi mendapatkan status Gementee atau kota. Yang awalnya hanya seluas 900 Ha terus berkembang hingga luas sekarang. Dan sekitaran Jalan Asia Afrika dan Jalan Braga adalah pusat kegiatan di bandung saat itu.

 

Gedung Konferensi Asia Afrika  yang kita kenal sekarang, awalnya hanya ada bangunan  yang berdiri disebelah barat bernama Societeit Concordia, gedung ini merupakan tempat berkumpul dan bersosialisasi para Preanger Planters atau Pengusaha Perkebunan di daerah Bandung. Lalu pada tahun 1921 ada penambahan gedung di sebelah timur untuk gedung pertunjukan yang dinamakan Schowburg oleh C.P Wolf Schoemaker seorang arsitek terkenal berkebangsaan belanda.

Tahun 1955 adalah tahun dimana Konferensi Asia Afrika diselenggarakan dan gedung Schowburg diganti namanya menjadi Gedung Merdeka oleh presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno. Dan gedung ini dijadikan ruangan Konferensi Asia Afrika, lalu jalan yang menghadapnya dinamakan Jalan Asia Afrika yang sebelumnya bernama Jalan Raya Timur.

Dan Presiden kedua Indonesia meresmikan Gedung ini menjadi Museum Konfrensi Asia Afrika pada tahun 1980.

 

Tidak jauh dari Jalan Asia Afrika adalah Jalan Bragaweg (Braga) yang awalnya merupakan daerah konservasi budaya. Kata braga sendiri berasal dari kata “Ngabaraga” yang artinya bergaya atau mejeng…. Jalan Braga adalah yang saat itu disebut The Place To See and To Be Seen. Disana juga banyak dibangun pertokoan esklusif, restoran, hotel hingga bioskop.

Jalan braga yang tidak panjang itu adalah tempat nongkrong bagi orang – orang belanda dan pribumi yang kaya raya…

 

Hingga saat ini Jalan Braga masih menjadi tujuan wisata bagi para turis dari luar negeri ataupun domestic, karena masih banyaknya bangunan bangunan art deco  yang menarik dan restoran yang legendaris..